Senin, 30 Mei 2016

skripsi tanaman cabai merah (bab 2)



BAB II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistematika
Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tumbuhan) tanaman cabai termasuk kedalam :
Divisi               : Spermatophyta
Sub divisi        : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Solanales
Famili              : Solanaceae
Genus             : Capsicum
Spesies             : Capsicum annum L.
2.2. Botani
2.2.1. Akar
Akar sebagai penegak pohon yang memiliki kedalaman ± 200 cm serta berwarna coklat. Dari akar tunggang tumbuh akar- akar cabang, akar cabang tumbuh horisontal didalam tanah, dari akar cabang tumbuh akar serabut yang berbentuk kecil- kecil dan membentuk masa yang rapat.
2.2.2. Batang 
Batang utama cabai menurut (Djarwaningsih, 2002) tegak dan pangkalnya berkayu dengan panjang 20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5 cm. Batang percabangan berwarna hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter batang percabangan mencapai 0,5-1 cm. Percabangan bersifat dikotomi atau menggarpu, tumbuhnya cabang beraturan secara berkesinambungan. Sedangkan menurut (Anonymous, 2009), batang cabai memiliki Batang berkayu, berbuku-buku, percabangan lebar, penampang bersegi, batang muda berambut halus berwarna hijau. Menurut (Tjahjadi, 2010) tanaman cabai berbatang tegak yang bentuknya bulat. Tanaman cabai dapat tumbuh setinggi 50-150 cm, merupakan tanaman perdu yang warna batangnya hijau dan beruas-ruas yang dibatasi dengan buku-buku yang panjang tiap ruas 5-10 cm dengan diameter data 5-2 cm.
2.2.3. Daun
Daun cabai menurut Bernaditus Wiryanto (2002) berbentuk hati , lonjong, atau agak bulat telur dengan posisi berselang-seling. Sedangkan menurut (Djarwaningsih, 1984) daun cabai berbentuk memanjang oval dengan ujung meruncing atau diistilahkan dengan oblongus acutus, tulang daun berbentuk menyirip dilengkapi urat daun. Bagian permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan bagian permukaan bawah berwarna hijau muda atau hijau terang. Panjang daun berkisar 9-15 cm dengan lebar 3,5-5 cm. Selain itu daun cabai merupakan Daun tunggal, bertangkai (panjangnya 0,5-2,5 cm), letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat telur sampai elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, petulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm, lebar 1-5 cm, berwarna hijau.
2.2.4    Bunga
Menurut (Nawangsih, dkk., 2003) bunga tanaman cabai berbentuk terompet kecil, umumnya bunga cabai berwarna putih, tetapi ada juga yang berwarna ungu. Cabai berbunga sempurna dengan benang sari yang lepas tidak berlekatan. Disebut berbunga sempurna karena terdiri atas tangkai bunga, dasar bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Bunga cabai disebut juga berkelamin dua atau hermaphrodite karena alat kelamin jantan dan betina dalam satu bunga. Sedangkan menurut (Anonymous, 2007) bunga cabai merupakan bunga tunggal, berbentuk bintang, berwarna putih, keluar dari ketiak daun. (Tjahjadi, 2010) menyebutkan bahwa posisi bunga cabai menggantung. Warna mahkota putih, memiliki kuping sebanyak 5-6 helai, panjangnya 1-1,5 cm, lebar 0,5 cm, warna kepala putik kuning.
2.2.5. Buah dan Biji
Buah cabai menurut (Anonymous, 2010), buahnya buah buni berbentuk kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya, menggantung, permukaan licin mengkilap, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, bertangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah. Sedangkan untuk bijinya biji yang masih muda berwarna kuning, setelah tua menjadi cokelat,berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Rasa buahnya yang pedasdapat mengeluarkan air mata orang yang menciumnya, tetapi orang tetapmembutuhkannya untuk menambah nafsu makan.
2.3. Syarat Tumbuh
Untuk memperoleh hasil yang berkualitas tinggi, usaha tani harus memperhatikan syarat tumbuh. Syarat tumbuh berkaitan dengan lingkungan dan lingkungan tidak dapat diubah oleh manusia sehingga menanam cabai merah harus memperhitungkan kondisi lingkungan tersebut.
2.3.1. Tanah
Cabe dapat tumbuh disegala macam tipe tanah, dan ketinggian tempat. Akan tetapi, yang terbaik adalah didataran rendah pada tanah yang mengandung pasir, yakni yang porositasnya cukup baik. Pada tanah yang air tanahnya menggenang atau porositasnya rendah, tidak cocok untuk ditanami cabe. Pada tanah seperi ini, tananan cabe mudah terserang penyakit akar, penyakit layu dan umumnya daun dan buahnya berguguran. Tanah yang air tanahnya dangkal dan porositasnya rendah, pada waktu hujan tampak becek, sehingga keadaan aerasinya jelek. Pada tanah seperti ini tidak baik ditanami cabe. Didataran tinggi sampai pada ketinggian 1500 m dpl. (diatas permukaan laut). Tanaman cabe masih mampu tumbuh dan berbuah baik. Didataran tinggi tanaman cabe mudah terserang penyakit daun dan batang, terutama apabila keadaan iklimnya lembab dan berkabut.
pH tanah yang baik antara 5­½-6½. Namun tanaman cabe toleran terhadap tanah masam yang pH-nya kurang dari 5, hanya berbuahnya kurang lebat dan tumbuhnya agak kerdil. Tanah yang subur, yang banyak mengandung humus (bahan organik), lapisan bunga tanahnya yang tebal adalah sangat cocok untuk tanaman cabe. Hal ini dikarenakan sistem perakaranya luas dan agak dalam.                  (Sunaryono, 2003)


2.3.2. Iklim
Suhu berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, demikian juga terhadap tanaman cabai. Suhu yang ideal untuk budidaya cabai adalah 24-28°C. Pada suhu tertentu seperti 15°C dan lebih dari 32°C akan menghasilkan buah cabai yang kurang baik. Pertumbuhan akan terhambat jika suhu harian di areal budidaya terlalu dingin. (Harjad,  2004) mengatakan bahwa tanaman cabai dapat tumbuh pada musim kemarau apabila dengan pengairan yang cukup dan teratur. Iklim yang dikehendaki untuk pertumbuhannya antara lain:
-Sinar matahari
Penyinaran yang dibutuhkan adalah penyinaran secara penuh, bila    penyinaran tidak secara penuh pertumbuhan tidak akan bisa normal.
-Curah Hujan
Tanaman cabe lebih senang tumbuh di daerah yang tipe iklimnya lembab sampai agak lembab. Tanaman cabe juga tidak senang terhadap curah hujan lebat, tetapi pada stadia tertentu perlu banyak air. Pada musim hujan, tanaman cabe mudah mengalami tekanan (stres), sehingga bunganya sedikit, dan banyak bunga yang tidak mampu menjadi buah. Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tananman cabe berkisar antara 600-1200 mm per tahun. Dari itu didaerah yang beriklim kering dan ditegalan yang tidak terdapat sumber pengairan, cabe terpaksa harus ditanam menjelang awal musim hujan, walaupun produksinya lebih rendah. Tanaman cabe lebih senang ditananm di daerah yang terbuka (tidak terlindung)  (Sunaryono, 2003).

2.3.3.   Suhu Udara
Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan dan pembuahan cabe berkisar 21° – 28°C. Suhu harian yang terlalu terik, yakni diatas 32°C menyebabkan tepung sarinya tidak berfungsi, sehingga produksinya rendah. Demikian pula suhu malam yang tinggi dapat menyebabkan pembuahanya rendah. Selain itu, pada suhu udara harian yang terik dapat menyebabkan bunga dan buahnya menjadi terbakar (hangus) dan mencelur. Suhu tanah pun berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara, terutama N dan P. Apabila pada waktu berbunga suhu turun dibawah 15°C, maka pembuahanya dan pembijianya terganggu . Pada suhu ini unsur hara mikro yang penting untuk pertumbuhan buah sukar diserap oleh tanaman sehingga terjadi buah tanpa biji atau partenokorpi. Pada suhu udara yang rendah, banyak cendawan penyakit daun yang menyerang tanaman cabe, terutama apabila disertai dengan kelembapan tinggi. Oleh karena itu, tanaman cabe lebih baik didataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl (Sunaryono, 2003).
2.4. Produksi dan Pertumbuhan
Secara fisiologis tanaman cabai merah menurut Nawangsih et. al. (1999: 49-50) dapat dibagi menjadi empat fase, ke-empat fase tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Fase Embrionis (Lembaga)
Fase embrionis terjadi sejak penyerbukan bakal buah oleh benang sari sehingga menghasilkan zigot yang seterusnya berkembang menjadi biji. Mulai tahap inilah pertumbuhan dan perkembangan tanaman berlangsung.

2.      Fase Juvenil
Fase juvenil dimulai sejak terbentuknya organ tanaman seperti daun, batang, dan akar yang pertama kalinya. Proses ini dikenal dengan perkecambahan. Fase juvenil berakhir pada waktu tanaman berbunga untuk pertama kali. Tanaman cabai yang berada dalam fase pertumbuhan juvenil aktif menumbuhkan tunas-tunas baru. Tunas tumbuh pada buku-buku batang utama dan pada ketiak daun. Pada fase ini tanaman tumbuh dan berkembang lebih cepat dan sangat subur.
3.      Fase Produksi
Fase produksi dimulai saat tanaman menumbuhkan bunga pertama dan berakhir ketika tanaman sudah tidak mampu berbuah secara normal.
4.      Fase Penuaan (senil) 
Batasan dimulai fase penuaan sulit dipastikan secara tepat karena sampai batas waktu tertentu tanaman masih mampu menghasilkan bunga yang dapat berkembang menjadi buah. Namun demikian, ini dapat dihasilkannya bila tanaman cabai menghasilkan buah berukuran dibawah normal, berarti tanaman sudah berada pada fase penuaan. Fase penuaan berakhir pada saat tanaman kering dan mati. 

skripsi tanaman cabai merah (bab 1)



BAB I.  PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang                              
Tanaman Cabai Merah (Capsium annum L.) adalah tanaman perdu dengan rasa buah pedas yang disebabkan oleh kandungan capsaicin. Secara umum cabai merah memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin, diantaranya kalori, protein, lemak, kabohidrat, kalsium, vitamin A, B1, dan C (Sherly Sisca Piay Dkk, 2013).  
Tabel 1. Produksi sayuran di Indonesia Tahun 2008 – 2012.
NO
TANAMAN
TAHUN
2008
2009
2010
2011
2012
1
Bawang Merah
853.615
965.164
1.048.934
893.124
960.072
2
Cabai Besar
695.707
787.433
807.16
888.852
953.557
3
Cabai Rawit
457.353
591.194
521.704
594.227
697.274
4
Kentang
1.071.543
1.076.304
1.060.805
955.488
1.068.800
5
Ketimun
540.122
583.139
547.141
521.535
512.556
6
Kubis
1.323.702
1.358.113
1.385.044
1.363.741
1.487.532
Sumber : Badan Pusat Statistik dan Derekorat Jendral Hortikultura.
Dari tabel di atas dapat di katakan bahwa pada tahun 2008 produksi cabai besar di Indonesia diperkirakan mencapai 695.707 ton dan selalu meningkat setiap tahunnya sampai 2012.
 Daerah sentra produksi utama cabai merah antara lain Jawa Barat (Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sukabumi,Cianjur, dan Bandung); Jawa Tengah (Brebes, Magelang, dan Temanggung); Jawa Timur (Malang, Banyuwangi,). (sherly Sisca Piay Dkk, 2013). Sedangkan pada tahun 2012 di daerah Lamongan Sendiri, Jenis tanaman cabai merah yang di tanam di lahan seluas 63 ha diperoleh hasil Produksi Cabai merah sebesar 153,8 ribu ton. (Anonymous, 2012)  
Wiryanta (2002) mengemukakan bahwa tanaman cabai yang sudah mulai berproduksi membutuhkan unsur hara makro yaitu Posfor dan Kalium serta unsur hara mikro B. Tembaga(Cu), Seng(Zn), zat Besi(Fe), dan Mn untuk pemasakan buah, menguatkan batang dan menunjang pertumbuhan generatif. Bila unsur hara makro dan mikro tidak tersedia pada tanah dalam jumlah yang cukup maka diperlukan tambahan pupuk melalui akar atau daun, guna mencukupi kebutuhan untuk mempertahankan kebutuhannya.
 Saat ini banyak lahan-lahan pertanian yang miskin akan kandungan bahan organiknya didalam tanah karena kurangnya pupuk organik / pupuk kandang. Padahal hal tersebut sangatlah penting karena pupuk kandang memiliki fungsi yang penting yaitu untuk menggeburkan lapisan tanah permukaan (topsoil), meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air yang keseluruhanya dapat meningkatkan kesuburan tanah pula (Sutejo , 2010).
Menurut Emil salim (2013) faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemupukan melalui daun adalah konsentrasi larutan, jenis tanaman dan waktu pemberian harus disesuaikan dengan aturan dosis yang sudah ditetapkan. Menurut Lingga dan Marsono (2004) bahwa penggunaan pupuk daun dengan konsentrasi berlebih akan menyebabkan gejala daun-daun seperti terbakar dan layu, kering dan akhirnya gugur. Hal ini tentunya sangat mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman.
Penggunaan pupuk organik dalam pemupukan dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara, bebas dari residu bahan kimia, dan dapat menjaga kestabilan mikroorganisme dalam tanah. Pupuk organik dapat dibedakan menjadi dua yaitu pupuk padat dan pupuk organik cair. Dalam dunia pertanian ada beberapa macam produk pupuk organik cair, dalam penelitian ini menggunakan tiga jenis pupuk organik cair, Antara lain SOT, Eco Fresh, dan FERTISOIL.
SOT atau Suplemen Organik Tanaman adalah produk teknologi solusi pertanian yang merupakan suplemen terbaik untuk pertanian Anda. Penggunaan SOT telah terbukti mampu meningkatkan produksi panen lebih maksimal dari sebelumnya karena SOT akan memperkuat jaringan pada akar dan batang dan juga dapat mencegah atau mengurangi tingkat gugur bunga maupun buah.  SOT HCS ini dapat diaplikasikan pada semua jenis tanaman (Anonymous, 2009).
Eco Fressh ZPT Plus Pupuk Organik Cair merupakan pupuk organik cair yang mengandung AUKSIN- SITOKININ- GIBERILI zat aktif untuk pembentukan akar senyawa yang membatu pembiakan vegetative dan berfungsi dalam proses perpanjangan umur, mempengaruhi proses pembelahan sel, merangsang pembiakan bunga dan mencegah kerontokan, merangsang pertumbuhan tunas pada kultur jaringan atau pada tanaman induk, memacu pembelahan sel dan pembentukan organ, merangsang percepatan pertumbuhan ekosistem dalam tanah dan air serta memacu pembentukan organ menunda penuaan, meningkatkan aktifitas penampung hara, memacu perkembangan kuncop samping tumbuhan dikotil, memacu perkembangan kroloplas dan sintetis klorof, merangsang perpanjangan batang. (Santoso-wijaya, 2010)
FERTISOIL adalah pupuk organik cair yang berfungsi memaksimalkan pertumbuhn pada tanaman, daun lebih lebar , lebih tebal dan lebih awal, mempercepan pembesaran buah, pupuk ini mengandung C-Organik : 5,10 % , pH : 7,53 %, P2O5 : 2,02 %, K2O  : 2,21 %, Fe: 0,11 ppm, Boron : 20 ppm , Co : 0,075 ppm , Mo  : 0,197 ppm. (Anonymou, 2009)
Menurut susanto (2002) dalam bloognya mengungkapkan pupuk organik yang mengandung mikroorganisme dapat memperbaiki kondisi tanah menjadi subur dengan menstimulasi tanaman dan micro organisme tanah. mengikat logam berat sehingga mengurangi keracunan tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, memperbaiki struktur tanah, menambah orgasitas tanah yang dapat membantu aerasih dan retensi air, meningkatkan daya penyerap unsur P, meningkatkan PH tanah menstimulis aktifitas micro organisme untuk mengahasilakan hormon-hormon tumbuhan, meningkatkan kekebalan penyakit, penggunaan pupuk sangat efektif sehingga mengurangi penggunaan pupuk Kimia.
1.2.   Tujuan Penelitian
Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh macam pupuk organik dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi cabai merah  (Capsicum annum L.).
1.3.   Hipotesa
            Pengajuan Hipotesa sebagai praduga awal, bahwa perlakuan jarak tanam 60 cm x 50 cm dan pemberian pupuk organik cair (SOT), memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produksi cabai merah (Capsicum annum L.).